M.2.1

Mata Kuliah  :  Ilmu Budaya Dasar

Dosen : Muhammad Burhan Amin

 

Topik Makalah/Tulisan

 

KEARIFAN BUDAYA LOKAL CERMINAN

PERILAKU BUDAYA MASYARAKATNYA

Kelas  :  1-IA22

 

Tanggal Penyerahan Makalah : 26 April 2013

Tanggal Upload Makalah  :  27 April 2013

P E R N Y A T A A N

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam penyusunan makalah ini saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim / pihak lain.

 

Apabila terbukti tidak benar, saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

P e n y u s u n

N P M

Nama Lengkap

Tanda Tangan

51412649

Dadang Daelimi

 

Program Sarjana Teknik Informatika

 UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, atas berkat  rahmat dan  karunianya atas selesainya makalah kedua pada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang berjudul “ Kearifan Budaya Lokal Cerminan Perilaku Budaya Masyarakatnya”. Mencoba memberikan penjelasan dan pegangan yang jelas, mudah dan ringkas, guna untuk mempermudah pembaca(mahasiswa/mahasiswi) memahami dan mengerti dalam  membentuk perilaku berbudaya. Semoga dengan adanya makalah ini, pembaca (mahasiswa/mahasiswi) menjadi lebih memahami tentang perilaku berbudaya didalam lingkungan masyarakat. Ucapan  terima kasih tak luput diucapkan kepada dosen mata kuliah Ilmu BudayaDasar yaitu Bapak Burhan Amin yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah  ini, maka dari itu saya berharap kritik dan saran yang membangun untuk ke depannya agar sayadapat lebih baik lagi dalam  mengerjakan makalah berikutnya.

Dengan ini, untuk para pembaca bisa memahami isi dari  makalah  ini, selamat membaca dan semoga bisa memanfaatkan makalah ini didalam kehidupan sehari-hari.

Jakarta, 26 April 2013

Dadang Daelimi

DAFTAR ISI

Pernyataan      ……………………………………………………………………….            1

Kata Pengantar           ………………………………………………………………            2

Daftar Isi         ………………………………………………………………………            3

BAB IPENDAHULUAN       ………………………………………………………            4

1. Latar Belakang        ………………………………………………………………            4

2. Tujuan         ………………………………………………………………………            6

3. Sasaran        ………………………………………………………………………            6

BAB II PERMASALAHAN             ……………………………………………….            7

1. Kekuatan     ………………………………………………………………………            9

2.Kelemahan   ………………………………………………………………………            9

3.Peluang        ………………………………………………………………………            10

4.Tantangan    ………………………………………………………………………            10

BAB IIIKESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Kesimpulan     ……………………………………………………………………….           11

Rekomendasi  ……………………………………………………………………….           11

REFERENSI  ……………………………………………………………………….           13

BAB 1 PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG

Kepribadian adalah keseluruhan cara dimana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisadiukur yang ditunjukkan oleh seseorang. Berbicara mengenai kepribadian kebudayaan mempunyai peranan penting dalam membentuk kepribadian sesorang maupun kepribadian bangsa. Para ahli sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari. Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi,tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman.Beberapa Teori tentang kepribadian :

  • Teori psikodinamika berfokus pada pergerakan energi psikologis di dalam manusia,dalam bentuk kelekatan, konflik, dan motivasi.
  • Teori Freud, Sigmund Freud berpendapat bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistemutama: id, ego, dan superego. Setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dankeseimbangan antara ketiga sistem tersebut.
  • Teori Jung, Carl Jung pada awalnya adalah salah satu sahabat terdekat Freud dan anggota lingkaran koleganya, tetapi pertemanan mereka berakhir dalam pertengkaran tentang ketidaksadaran. Menurut Jung, di samping ketidaksadaran individual, manusia memiliki ketidaksadaran kolektif yang mencakup ingatan universal, simbol-simbol gambaran tertentu, dan tema-tema yang disebutya sebagai arketipe.

Bronislaw Malinowski yang terkenal sebagai salah seorang pelopor teori fungsional dalamanthropologi, menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut :

  • System norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat didalam upaya menguasai alam sekelilingnya
  • Organisasi ekonomi
  • Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan; perlu diingat bahwa keluargamerupakan pendidikan yang utama
  • Organisasi kekuatan

Pada intinya para ahli menunjuk pada adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals, yaitu :

  • Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumahtangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya)
  • Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya)
  • Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
  • Bahasa (lisan maupun tertulis)
  • Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya)
  • Sistem pengetahuan dan pendidikan
  • Religi (sistem kepercayaan)

Sejalan dengan derasnya arus modernisasi dan globalisasi, budaya-budaya daerah kian memudar dan  terpinggirkan oleh budaya-budaya yang masuk kedalam tubuh budaya kita yang dominan berasal dari budaya-budaya barat. Sehingga dari akibat tersebut dapat menimbulkan berbagai macam masalah budaya di Indonesia, antara lain adanya perbedaan karakter kepribadian budaya barat dengan budaya Indonesia yang dapat merusak budaya Indonesia yang juga dapat mengakibatkan pembentukan kepribadian yang kurang baik akibat dari pergeseran nilai-nilai kebudayaan yang ada.

Secara umum Kebudayaan dan Kepribadian saling memiliki keterkaitan dalamkehidupan setiap manusia. Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, selain itu karena disebut sebagai makhluk sosial maka manusia tidak bisa hidup sendiri atau saling ketergantungan.

Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan sosial. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola pikir masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan, dan ideologi yang mereka anut.

Berbicara mengenai kepribadian dan kebudayaan, tidak terlepas dari hubungan antara masyarakat dan kebudayaan. Masyarakat dan kebudayaan merupakan perwujudan atau abstraksi perilaku manusia. Perilaku seseorang bisa saja mencerminkan budaya dari suatu tempat.

Oleh karena itu budaya sangatlah penting dalam setiap lapisan sosial. Karena budaya membentuk pola pikir setiap individu yang bersangkutan dengan budaya tersebut. Sesuai dengan judul makalah yang saya buat yaitu“ Kearifan budaya lokal cerminan perilaku budaya masyarakatnya ”

2.      TUJUAN

Mencoba memberikan penjelasan dan pegangan yang jelas, mudah dan ringkas, gunauntuk mempermudah pembaca (mahasiswa/mahasiswi) memahami dan mengetahui perilaku seseorang itu tercermin dalam budaya lokalnya sendiri. Semoga dengan adanya makalah ini, pembaca (mahasiswa/mahasiswi)menjadi lebih memahami tentang perilaku seseorang berbudaya didalam lingkungan keluarga sertamenerapkannya didalam kehidupan sehari-hari dan tidak terpengaruh dari lingkungan luar.

3.      SASARAN

Semoga dengan adanya makalah ini, khususnya mahasiswa/mahasiswi yang membacanya dapat memahami dan mengerti dalam membentuk perilaku berbudaya sesuai dengan norma dan adat istiadat, sehingga terciptalah individu yang berbudaya dan menjadilebih memahami tentang perilaku berbudaya didalam lingkungan keluarga dan tidak meninggalkan kesan budaya adat istiadat tersebut.

 

BAB 2 PEMBAHASAN

Kearifan lokal (local genius/local wisdom) merupakan pengetahuan lokal yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas yang berasal dari pengalaman hidup yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal  dengan demikian merupakan pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungannya yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.

Kearifan budaya atau masyarakat merupakan kumpulan pengetahuan  dan cara berpikir yang berakar dalam  kebudayaan suatu etnis, yang merupakan hasil pengamatan dalam kurun waktu yang panjang. Kearifan tersebut banyak berisikan gambaran tentang anggapan masyarakat yang bersangkutan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan manusia, serta hubungan-hubungan manusia dan lingkungan alamannya2.

Dalam bertindak, hendaknya selalu think globally act locally. Keyakinan tradisional mengandung sejumlah besar data empiris yang berhubungan dengan fenomena, proses dan sejarah perubahan lingkungan sehingga membawa implikasi bahwa sistem pengetahuan tradisional dapat memberikan gambaran informasi yang berguna bagi perencanaan dan proses pembangunan. Keyakinan tradisional dipandang sebagai kearifan budaya lokal  (indigenous knowledge), dan merupakan sumber informasi empiris dan pengetahuan penting yang dapat ditingkatkan untuk melengkapi dan memperkaya keseluruhan pemahaman ilmiah.

Masing-masing daerah, suku atau komunitas dalam suatu wilayah akan memiliki pengetahuan tradisional yang secara empiris merupakan nilai yang diyakini oleh komunitasnya  sebagai pengetahuan bersama dalam menjalin hubungan antara sesama dan lingkungan alamnya. Masyarakat Bali sebagai satu kesatuan geografis, suku, ras, agama memiliki nilai kearifan lokal yang telah teruji dan terbukti daya jelajah sosialnya dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan sosial. Nilai kearifan  lokal yang berkembang dan diyakini sebagai perekat sosial yang kerap menjadi acuan dalam menata hubungan dan kerukunan antar sesama umat beragama Bali, antara lain :

  • Nilai kearifan Tri Hita Karana; suatu nilai kosmopolit tentang harmonisasi hubungan manusia dengan tuhan (sutata parhyangan), hubungan manusia dengan sesama umat manusia (sutata pawongan) dan harmonisasi hubungan manusia dengan alam lingkungannya (sutata palemahan). Nilai kearfian lokal ini telah mampu menjaga dan menata pola hubungan sosial masyarakat yang berjalan sangat dinamis.
  • Nilai kearifan lokal Tri Kaya Parisuda; sebagai wujud keseimbangan dalam membangun karakter dan jati diri insani, dengan menyatukan unsur pikiran, perkataan dan perbuatan. Tertanamnya nilai kearfan ini telah melahirkan insan yang berkarakter, memiliki konsistensi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajiban sosial.
  • Nilai kearifan lokal Tatwam Asi; kamu adalah aku dan aku adalah kamu, nilai ini memberikan fibrasi bagi sikap dan prilaku mengakui eksistensi seraya menghormati orang lain sebagaimana menghormati diri sendiri. Nilai ini menjadi dasar yang bijaksana dalam membangun peradaban demokrasi modern yang saat ini sedang digalakkan.
  • Nilai Salunglung Sabayantaka, paras paros sarpanaya; sutu nilai sosial tentang perlunya kebersamaan dan kerjasama yang setara antara satu dengan yang lainnya sebagai satu kesatuan sosial yang saling menghargai dan menghormati.
  • Nilai Bhineka Tunggal Ika sebagai sikap sosial yang menyadari akan kebersamaan ditengah perbedaan, dan perbedaan dalam kebersamaan. Semangat ini sangat penting untuk diaktualisasikan dalam tantanan kehidupan sosial yang multikultural.
  • Nilai kearifan lokal Menyama Braya; mengandung makna persamaan dan persaudaraan dan pengakuan social bahwa kita adalah bersaudara. Sebagai satu kesatuan sosial persaudaraan maka sikap dan prilaku dalam memandang orang lain sebagai saudara yang patut diajak bersama dalam suka dan duka.

Sederetan nilai-nilai kerafian lokal tersebut akan bermakna bagi kehidupan sosial apabila dapat menjadi rujukan dan bahan acuan dalam menjaga dan menciptakan relasi sosial yang harmonis. Sistem pengetahuan lokal ini seharusnya dapat dipahami sebagai sistem pengetahuan  yang dinamis dan berkembang terus secara kontekstual  sejalan dengan tuntutan kebutuhan manusia yang semakin heterogen dan kompleks.

1.      Kekuatan (Strength)

  • Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya, Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional. Terutama Budaya lokal masyarakat Bali adalah aset yang dapat menjadi daya tarik tersendiri yang mencerminkan perilaku masyarakatnya.
  • Kebudayaan Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang mencakup nilai-nilai dasar yang dominan seperti: nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmoni, dan nilai keseimbangan. Kelima nilai dasar tersebut ditengarai mampu bertahan dan berlanjut menghadapi berbagai tantangan.
  • Kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. Itu sebabnya kebudayaan Bali tetap terjaga dan dikenal oleh masyarakat luas terutama oleh bangsa asing.
  • Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud.

 2.      Kelemahan (Weakness)

  • Structural : Ketahanan struktural secara fisik terkait dengan penguasaan tanah sebagai penyangga budaya, yang bukan saja berubah fungsi tetapi juga berubah penggunaannya.
  • Fungsional : Kelemahan fungsional terkait dengan melemahnya fungsi bahasa, aksara dan sastra Bali sebagai unsur dan media kebudayaan
  • Prosesual : Kelemahan prosesual realitas konflik yang berkembang dengan fenomena transformasi dengan ikatannya berupa fragmentasi dan disintegrasi
  • Masyarakat dan kebudayaan Bali tidak luput dari perubahan di era globalisasi ini. Seperti dikatakan oleh Adrian Vickers bahwa orang Bali kini tengah mengalami suatu paradok yakni cenderung mengadopsi kebudayaan modern yang mendunia (kosmopolitan), namun di sisi lain juga sedang mengalami proses parokialisme atau kepicikan yang timbul karena fokus beralih pada lokalitas, khususnya kepada desa adat.

 3.      Peluang (Opportunity)

  • Budaya Lokal masyarakat Bali dapat lebih dikenal dalam dunia Internasional dengan mengembangkan sistem pariwisata yang ada.
  • Kesenian yang ada di Bali menjadi daya tarik sendiri bagi dunia manca Negara.
  • Perilaku masyarakatnya yang khas menjadi peluang bagi kebudayaan Bali untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas
  • Dengan melakukan penetrasi pencitraan bangsa ini kedepannya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kemajuan budaya Bali dimata dunia, dimana hal ini akan memberikan dampak positif yang akan membuat Indonesia menjadi salah satu pusat cagar budaya dunia.

 4.      Tantangan / Hambatan

  • Teralu banyaknya budaya modern yang masuk ke Indonesia khusunya Bali, dapat berpengaruh terhadap budaya yang sudah ada, dan bisa saja mengakibatkan pudarnya budaya yang telah ada di Bali.
  • Keanekaragaman suku bahkan budaya yang ada di Indonesia yang dapat berakibatkan pola pikir masyarakat menjadi membandingkan antara suku dan budaya yang satu dengan suku dan budaya yang lain.
  • Banyak tempat-tempat yang harus benar-benar di lestarikan agar terjaga kelestariannya, bukan hanya sebagai tempat untuk menarik wisatawan agar datang ke Bali.
  • Bukan hanya budaya yang ada di Bali yang harus dilestarikan agar di ketahui oleh bangsa lain, melainkan seluruh budaya yang ada di Indonesia harus kita lestarikan agar Indonesia terkenal akan keanekaragaman budayanya.

 

BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1.      KESIMPULAN

Sebagai manusia harus membentuk perilaku berbudaya dengan sebaik mungkin, karena kebudayaan akan mencerminkan tindakan serta perilaku masyarakat yang bersangkutan dalam budaya tersebut. Sebaiknya setiap manusia menerapkan ilmu budaya didalam kehidupan sehari-hari sehingga tercipta keharmonisan bahkan keanekaragaman yang sejahtera didalam kehidupan. Adapun kita harus memilah bahkan memilih budaya yang masuk, karena dapat merusak budaya yang sebelumnya diterapkan. Dan kita wajib memilih mana budaya yang seharusnya mereka pilih dan diterapkan dikehidupan sehari-hari atau mana budaya yang seharusnya mereka hindari. Dan janganlah begitu mudahnya meninggalkan perilaku yang bersangkutan dengan budaya yang telah ada. Serta jangan pula cepat terpengaruh dari perilaku yang diterapkan oleh budaya yang ada bahkan lingkungan budaya orang lain.

2.      REKOMENDASI

  • Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud.
  • Masyarakat dan kebudayaan Bali tidak luput dari perubahan di era globalisasi ini. Seperti dikatakan oleh Adrian Vickers bahwa orang Bali kini tengah mengalami suatu paradok yakni cenderung mengadopsi kebudayaan modern yang mendunia (kosmopolitan), namun di sisi lain juga sedang mengalami proses parokialisme atau kepicikan yang timbul karena fokus beralih pada lokalitas, khususnya kepada desa adat.
  • Dengan melakukan penetrasi pencitraan bangsa ini kedepannya akan sangat berpengaruh dalam perkembangan kemajuan budaya Bali dimata dunia, dimana hal ini akan memberikan dampak positif yang akan membuat Indonesia menjadi salah satu pusat cagar budaya dunia.
  • Keanekaragaman suku bahkan budaya yang ada di Indonesia yang dapat berakibatkan pola pikir masyarakat menjadi membandingkan antara suku dan budaya yang satu dengan suku dan budaya yang lain.

 

REFERENSI

http://www.keajaibandunia.net/info/contoh-kearifan-lokal-masyarakat-bali.html

http://www.yayasankorpribali.org/artikel-dan-berita/59-mengelola-nilai-kearifan-lokal-dalam-mewujudkan-kerukunan-umat-beragama.html

http://metrobali.com/2013/01/12/kearifan-budaya-lokal-dan-umkm-di-bali/

http://www.aipi.or.id/id/news-and-messages/news/166-transformasi-kearifan-budaya-lokal-menghadapi-tantangan-global

http://nenielse99.wordpress.com/2011/09/27/kearifan-lokal-budaya-bali/